Wednesday, December 12, 2007

Buatlah Mukjizat Setiap Hari

Sebal! itulah perasaan saya ketika dihadapkan pada sebuah masalah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Begaimana tidak? Saat itu saya harus menyiapkan dokumen lengkap untuk diserahkan ke Polres Sleman Jogyakarta. Jangan salah! Saya bukanlah seorang buronan, melainkan seorang lulusan SMA yang begitu gembira karena baru saja dinyatakan diterima pada salah satu fakultas di perguruan tinggi nasional tertua Indonesia. Saya sedang menyiapkan syarat-syarat administrasi untuk kelengkapan entry. Namun, saya mesti memiliki surat keterangan dari Polres dan kesempatan untuk mendapatkan surat itu tinggal besok paginya, waktu yang tersisa tinggal beberapa jam saja. Malam telah begitu larut, menjelang dini hari, tinggal KTP yang belum siap. Duh... semua file yang ada sudah saya obrak-abrik. Keranjang sampah sudah saya korek-korek. Rak, buffet, tempat tidur, bahkan isi dapur saya periksa dengan teliti. Darah saya mendidih. Tapi tak ada petunjuk sedikitpun. Akhirnya dalam kelelahan dan kecemasan, saya menyerah.....

Tetapi saya tidak sekedar menyerah, melainkan menyerahkan permasalahan ini kepada Tuhan. Saya bertelut dalam doa sederhana supaya Tuhan sendiri yang mengambil alih beban dan harapan saya. Selesai berdoa saya langsung tidur dan melupakan semuanya. Saya tertidur nyenyak seperti seorang bayi mungil.

Pagi harinya saya terbangun. Antara sadar dan tidak, sebuah suara mahakeras memberikan perintah. Suara itu berkata: “tengoklah ke laci meja di gudang”. Saya langsung meloncat dari tempat tidur dan berlari seperti dikejar anjing greyhound menuju gudang. Meja tua yang teronggok di pojok ruangan, saya bongkar lacinya. Ternyata.... KTP saya memang ada di sana. “Glory be to God’” saya berseru penuh syukur. Hari itu urusan saya ke polis beres dengan menyenangkan.

Keajaiban? Anda boleh berfikir demikian karena saya juga menyebutnya demikian. Mengapa ini terjadi pada saya? Apakah karena saya menganut agama tertentu? Atau karena saya adalah seorang yang bermoral baik?

Keajaiban seperti itu sesungguhnya bukanlah keajaiban, karena setiap orang bisa mengupayakan dalam kehidupannya. Manifestasi keajaiban ini hanyalah akibat aplikasi sederhana hukum psikokinetik yang bekerja atas dasar keyakinan (belief). Bila Anda seorang yang agamawan atau agamawati belief ini sering dikenal sebagai iman (faith).

Keyakinan muncul karena pengetahuan bahwa setiap orang memiliki kekuatan mahadahsyat dalam diri yang dikenal sebagai bawah sadar (subconciousness mind). Mekanisme keyakinan-lah yang menggerakkan bawah sadar untuk memberi informasi yang pikiran sadar kita tidak ketahui. Doa atau alphamatik bentuk apa pun bila disertai dengan keyakinan akan mengerakkan bawah sadar untuk bekerja optimum demi menjawab semua pertanyaan dan kebingungan Anda.

Dalam kasus saya tersebut, ketika saya sampai pada titik pasrah/berserah, sebenarnya saya memberikan keyakinan pada bawah sadar sehingga ia bekerja. Suara pagi hari itu adalah suara bawah sadar yang dipakai-Nya sebagai jawaban atas keyakinan saya.

Keajaiban bawah sadar kini bukan lagi sesuatu yang diragukan. Saya menerima banyak laporan mengagumkan bagaimana cincin kawin yang hilang bertahun-tahun bisa diketemukan, seorang penulis yang sanggup menulis dengan lancarnya karena memiliki gudang ide yang tak pernah kering, bagaimana berbagai penyakit disembuhkan secara mukjizat.

Area bawah sadar kini mendapat perhatian luar biasa dari kalangan ilmuwan barat. Namun, orang timur sendiri sebenarnya malahan sudah selangkah lebih jauh dari orang barat. Perbedaan keduanya terletak pada bagaimana memahami bawah sadar ini. Orang barat melakukan analisa-analisa kepadanya dengan pendekatan sistematis dan logis. Beberapa ilmuwan seperti Carl Gustav Jung dan Sigmund Freud adalah tokoh peletak dasar pengenalan bawah sadar dengan psikoanalisanya. Kini muncul Joe Vitale yang berhasil menelaah mekanisme bawah sadara dengan sangat meyakinkan. Joe menyebut bawah sadar sebagai attractor factor . Sementara orang timur tak begitu tahu seluk-beluk bawah sadar namun mereka adalah aplikator. Menggunakan tanpa tahu apa yang mereka sedang gunakan. Sebutlah nama –nama besar seperti: Sang Buddha Gautama, Mohandas Gandhi, Prabu Jayabaya dan .........sebentar lagi : Anda sendiri

Saya menyarankan Anda menggunakan daya dahsyat ini untuk keberhasilan Anda, baik untuk keperluan profesional, personal, keluarga, kesehatan, peningkatan finansial, relasi, maupun pertumbuhan spiritual Anda. Anda akan mengalami kehidupan yang meningkat dengan pasti dan menikmati kedamaian yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan.

Mr. Octavian Elang Diawan – Trainer

SIAPAKAH AKU?

“If you have time to be mindful, you have time to meditate.”
~Ajahn Chah

Seorang guru spiritual, Ajahn Chah, suatu saat pernah mendapat pertanyaan, “Guru, di manakah tempat tinggal Anda?”
“Saya tidak tinggal di mana pun,” jawab Ajahn Chah.
“Bukankah Guru tinggal di vihara?” tanya seorang umat dengan penasaran.
“Saya tidak tinggal di mana pun. Karena sebenarnya tidak ada Ajahn Chah. Karena Ajahn Chah tidak ada maka tidak ada yang tinggal di suatu tempat,” jawab Sang Guru.

Dalam kesempatan lain Ajahn Chah mendapat pertanyaan dari dua orang yang berbeda, “Siapakah Ajahn Chah?”
Jawaban Ajahn Chah juga berbeda. Untuk penanya pertama ia menjawab, “Ini, inilah Ajahn Chah.”
Sedangkan untuk penanya kedua ia menjawab, “Ajahn Chah? Tidak ada Ajahn Chah.”

Saya bingung saat membaca jawaban guru spiritual ini. Lha, mana ada orang yang nggak punya tempat tinggal. Dan lebih aneh lagi ia menjawab, “Tidak ada Ajahn Chah.” Berarti ia menyangkal keberadaan dirinya. Lha, kalau Ajahn Chah tidak ada lalu siapakah yang bernama Ajahn Chah? Atau siapakah yang sedang berbicara?

Jawaban yang singkat namun sangat dalam ini membutuhkan beberapa waktu untuk saya telaah, renungkan, kunyah perlahan-lahan hingga akhirnya saya bisa memahami intisari dari pernyataan Beliau.

Selain melakukan indepth thinking saya juga membutuhkan informasi tambahan untuk benar-benar bisa mengerti maksud Beliau. Sebagai seorang yang terbiasa berpikir logis maka saya membutuhkan informasi pendukung mengapa Ajahn Chah berkata, ”Tidak ada Ajahn Chah?” Apa maksud Beliau dan apa hubungannya dengan proses berpikir dan ”aku”? Jika tidak ada Ajahn Chah lalu siapakah orang yang mengeluarkan pernyataan?

Pembaca, setelah berpikir dan berpikir....eureka... akhirnya saya mengerti. Ajahn Chah benar. Yang Beliau maksudkan dengan ”Tidak ada Ajahn Chah” adalah padamnya ego yang selama ini menguasai diri kita.

”Aku”, ”Saya”, ”Punyaku”, ”Milikku” semua adalah permainan ego. Ego bekerja dan mempertahankan diri, memperkuat pengaruh, semakin memperbesar dirinya, dan semakin kuat mencengkeram kita dengan menggunakan dua strategi yaitu identifikasi dan separasi. Identifikasi berasal dari akar kata idem, yang berarti sama, dan facere yang berarti membuat. Jadi identifikasi berarti membuat menjadi sama.

Kita, manusia, senantiasa mengidentifikasi diri kita dengan sesuatu. Hal ini tampak dalam pernyataan ”Saya marah”, ”Ini ideku”, ”Ini rumahku”, ”Tubuhku gemuk”, ”Mobilku rusak”, dan masih banyak lagi pernyataan yang serupa.

Saat kita berkata ”Saya marah” maka kita mengidentifikasikan ”saya” dengan ”marah”. Berarti ”saya” sama dengan ”marah”. Saat kita berkata ”Ini ideku” maka kita menyamakan diri kita dengan ide kita. Itulah sebabnya bila ada orang yang mengkritik ide kita maka kita bisa marah besar. Mengapa? Karena kita menganggap orang itu mengkritik diri kita. Nah, ini kan bentuk identifikasi.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita ini sama dengan emosi kita? Apakah kita ini sama dengan ide kita? Tentu tidak.

Marah adalah suatu bentuk emosi. Dan kita tidak sama atau bukan emosi kita. Demikian juga dengan ide. Ide adalah buah pikir (thought) yang dihasilkan oleh pikiran (mind) melalui proses berpikir (think). Pikiran (mind) diarahkan oleh kesadaran (awareness). Kita merasa bahwa kita sama dengan emosi atau ide kita karena ego yang membuatnya seperti itu. Apakah kita sama dengan pikiran kita? Tentu tidak.

Manusia terdiri atas dua bagian yaitu tubuh fisik/badan dan batin. Batin manusia terdiri atas empat komponen yaitu pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran. Dan kita bukanlah batin maupun fisik kita.

Identifikasi ini tampak jelas saat seorang anak menangis sedih karena mainannya rusak. Anak ini sedih bukan karena sayang dengan mainan yang harganya mahal. Anak ini sedih karena identifikasi dalam bentuk ”Mainanku rusak” membuat ”mainan” masuk ke dalam struktur ”aku”. Dengan kata lain, anak merasa yang rusak bukan hanya mainannya namun juga ”dirinya”.

Identifikasi seperti ini juga tampak dalam diri pejabat yang mengalami post power syndrome, pengusaha yang dulu jaya tapi sekarang bangkrut, wanita yang dulunya langsing dan sexy namun sekarang gemuk, dan masih banyak contoh lain. Singkat kata identifikasi membuat seseorang melekat pada sesuatu.

Strategi kedua yang digunakan ego adalah separasi. Separasi maksudnya ”aku” adalah entitas yang berbeda dengan ”orang” atau ”aku” yang lain. Aku tidak bisa ada tanpa adanya ”yang lain”, kamu, dia, mereka. Untuk mempertegas separasi ini ego biasanya menggunakan emosi negatif yang dimunculkan dengan menggunakan strategi ”mengeluh/menyalahkan” dan ”membenci” orang lain.

Semakin kita sering mengeluh atau menyalahkan orang lain maka semakin jelas separasi di antara kita dan mereka. Mengeluh dan menyalahkan diperkuat oleh emosi benci.

Lalu apa sih ego itu? Kok bisa pintar seperti ini kerjanya, sangat halus dan berbahaya?

Ego adalah hasil ciptaan pikiran kita.

Nggak percaya?

Coba lakukan eksperimen kecil ini. Misalnya ada orang yang berkata, ”Hei, manusia kurang ajar. Matamu ditaruh di mana kok sampai nginjak kaki saya?” Bagaimana reaksi Anda? Apakah Anda akan diam, tersenyum, atau marah? Bisa jadi Anda, yang merasa tidak bersalah, akan marah besar.

Nah, sekarang skenarionya diubah. Misalnya saat Anda sedang tidur lelap dan orang ini mengucapkan hal yang sama pada diri Anda. Apa yang akan Anda lakukan? Bagaimana reaksi Anda?

Saya yakin Anda tidak akan berekasi sama sekali. Lha, lagi enak-enak tidur mana bisa mendengar omongan orang. Benar, nggak?

Ego beroperasi saat kita dalam kondisi sadar. Saat kita ”tidak sadar” (baca: tidur) maka ego juga berhenti bekerja.

Saat sedang merenungkan pernyataan Ajahn Chah tiba-tiba saya teringat satu pernyataan yang sangat terkenal dari Rene Descartes, filsuf besar abad ketujuh belas yang dianggap sebagai bapak filosofi moderen, Cogito Ergo Sum, yang kalau dalam bahasa Inggris, ”I think, therefore I am”, dan kalau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi, ”Saya berpikir maka saya ada.”

Lama saya merenungkan pernyataan ini. Mana yang lebih dulu ada. Saya berpikir maka saya ada ataukah saya ada baru saya bisa berpikir? Pemikiran ini akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan bahwa sebenarnya ada lebih dari satu ”aku”. ”Aku” yang berpikir dan ”aku” yang berkata ”Saya ada”.

Semuanya menjadi semakin jelas saat saya membaca literatur yang berjudul Unity and Multiplicity: Multilevel Consciousness of Self in Hypnosis, Psychiatric Disorder and Mental Health yang ditulis oleh John O. Beahrs.

Ternyata yang namanya kesadaran atau consciousness itu bertingkat-tingkat (multilevel). Kesadaran atau consciousness yang aktif dalam suatu saat bisa berbeda bergantung situasi dan kondisi.

Kesimpulan ini semakin diperjelas lagi saat saya membaca pernyataan Jean Paul Sartre yang juga mengatakan, ”Kesadaran yang mengatakan ’I am’ bukanlah kesadaran yang berpikir (I think).

Apa maksudnya?

Saat kita sadar mengenai proses berpikir kita, atau dengan kata lain kita menganalisis atau menggunakan pikiran untuk berpikir mengenai apa yang kita pikirkan atau proses berpikir kita maka kesadaran yang melakukan analisis berbeda dengan kesadaran yang melakukan proses berpikir. Secara teknis kemampuan berpikir mengenai berpikir disebut dengan metakognisi.

Saat kita sedang mengalami gejolak emosi maka hati-hati lah karena saat itu ego sedang bermain. Kita sering mendengar pernyataan, ”Saya merasa tersinggung dengan ucapannya.” Atau, ”Ini milikku. Jangan coba-coba sentuh.”

Cara untuk mengatasi cengkeraman ego adalah dengan mengajukan pertanyaan, ”Ok, kalau saya tersinggung, maka sebenarnya bagian mana dari diri saya yang tersinggung?” Apakah rambut saya, telinga saya, mata saya, atau kaki saya?

Sama seperti mobil. Jika ada kawan yang berkata, ”Saya habis nyerempet pembatas jalan. Mobil saya penyok.” Tentu kita tidak akan serta merta menerima pernyataan ini. Kita pasti akan bertanya, ”Bagian mana yang penyok? Bemper depan, kiri, kanan, atau kena di bodi mobil?”

Nah demikian juga dengan manusia. Jika kita tersinggung maka pasti ada bagian yang mengalami perasaan tersinggung. Benar, nggak? Nah, kita harus mencari bagian ini. Sebab, jika kita menerima pernyataan ”Saya merasa tersinggung” secara utuh maka yang terkena dampaknya adalah diri kita secara keseluruhan.

Padahal bila kita teliti maka yang terkena dampak dari perasaan tersinggung sebenarnya hanyalah perasaan kita. Benar, hanya perasaan. Perasaan, yang merupakan salah satu dari empat komponen batin manusia, yang akan selalu mengalami berbagai emosi yang dialami seseorang. Baik itu emosi positif maupun yang negatif. Cara ini bertujuan untuk bisa melepaskan diri dari cengkeraman identifikasi yang dilakukan ego.

Singkat kata, saat kita merasakan sesuatu maka yang merasakan itu adalah ”perasaan”, bukan ”kita” atau ”aku”.

Demikian juga dengan pernyataan, ”Ini milikku.” Bisa kita tanyakan, ”Bagian mana dari diri saya yang memiliki benda ini?” Bagaimana dengan orang yang mengalami amnesia atau lupa ingatan? Apakah orang ini masih bisa mengingat benda yang dulunya menjadi miliknya? Terus... kalau sudah lupa maka konsep ”milikku” runtuh dengan sendirinya.

Nah, pembaca, membaca sejauh ini apakah Anda bisa menarik kesimpulan untuk menjawab pertanyaan yang saya tulis sebagai judul artikel ini, ”Siapakah Aku?”.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan kalimat yang pernah saya baca di satu buku: Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir jaman
Dan rohku akan kembali kepada Sang Khalik

Pertanyaan saya pada Anda, ”Siapa atau apakah ’aku’ pada kalimat di atas?”

[adi w gunawan]

WHO AM I? "KEKUATAN MOTIVASI DARI DALAM DIRI"

Mengapa, mengapa & mengapa?
Jutaan orang baca buku Rich Dad, Poor Dad. Jutaan orang baca buku The Secret. Jutaan orang belajar NLP. Mengapa tetap saja. Ya, tetap saja. Tetap saja sedikit sekali, ya sedikit sekali. Sedikit sekali orang yang berhasil. Berhasil dalam hidupnya. Berhasil mencapai impiannya. Mengapa, mengapa & mengapa?


Anda tahu jawabannya? Mudah! Jawabannya: "Tauk ah Gelap!"

Seorang teman mengamati Nasrudin yang sedang sibuk mencari sesuatu di perkarangan rumahnya. Si teman bertanya: "Apa yang sedang kau cari Nasrudin?". "Sejak pagi, aku sedang mencari jarumku yang hilang? Bantuin dong!" jawab Nasrudin dengan suara mulai frustasi dengan badan terus menunduk berusaha mencari jarum. Temannyapun ikut membantu mencari karena solideritas teman ngopi. Setelah 1 jam ikut membantu mencarikan jarum yang hilang tersebut, temannya mulai penasaran dan bertanya lagi: "Hai Nasrudin! Jarum kamu hilang dimana?" Nasrudin juga makin frustasi dan dengan nada agak membentak menjawab: "Hilangnya di dalam rumah!!!". Si teman agak kaget dan marah: "Mengapa kau cari di luar rumah?!!!". Nasrudinpun ikut kesal dan menjawab ketus: "Di luar rumah terang. Di dalam rumah GELAP TAUK!!!"


Ya, itulah jawaban pertanyaan tadi "Mengapa, mengapa & mengapa?" Tidak ada yang salah sih, namun jika kita tidak tahu kita ada dimana, maka kita bisa tersesat dan terjebak bukan? Terjebak dalam suatu kondisi atau suatu situasi yang kita juga tidak tahu apa. Tersesat karena kita tidak punya peta, bahkan banyak dari kita tidak tahu mau kemana. Sungguh sangat membuang waktu bukan?


Sering kali kita terjebak di sebuah tempat yang sepertinya terang padahal itu bukanlah tempat yang kita cari. Sebenarnya jika kita tahu mau kemana, walau kita berada di hutanpun, tidaklah mungkin kita tersesat. Karena hutan tidak pernah berubah. Posisi sebuah pohon yang mungkin sudah berumur puluhan tahun, selalu di posisi yang sama, tidak mungkin sebuah pohon berpindah-pindah tempat. Kecuali pohon Natal he..he.. Nah, Nasrudin hanya bingung dan mungkin mulai panik, sehingga dia mencari di tempat yang mungkin kurang tempat.


Banyak sekali orang seperti Nasrudin, bukan? Sayapun pernah berada di posisi Nasrudin. Beruntung dalam hidup saya sejak kecil selalu bertemu dengan para pembimbing, hampir dalam segala hal, khususnya Pembimbing Rohani. Sehingga tidak banyak saya menghabiskan waktu dalam perjalanan hidup ini, menuju pulang ke Sang Khalik.


Lalu, bagaimana dong keluar dari hutan kebingungan tadi?

Oke, sekarang kita mulai main-main yok. (Baca kalimat berikut dalam hati dan baca dalam tempo yang lambaaat saja...) "Bayaaangkaaan dan rasaaakaaan... Sekarang tiba-tiba Anda terperosok dan berada dalam ruangan yang gelaaap..." Diam sejenak, amati respon Anda? Pejamkan mata Anda 10-20 detik. Apa pilihan respon Anda?


Respon yang umum terjadi adalah Panik, bukan?

Kaget akan memompa jantung kita bekerja sangat cepat, makin lama makin cepat dan kitapun akan panik, bukan? Nah, panik bisa membuat kita berteriak keras minta tolong, ketakutan, menangis, lari kesana kemari atau mungkin lemas pingsan. Pokoknya kacau deh. Karena kacau, maka hasilnyapun akan kacau, bukan?


Seorang teman lama dari Semarang pernah minta masukan dan bimbingan saya untuk meng-coaching dia agar bisa berhasil menjadi pembicara atau trainer. Saya bertanya pada dia: "Kamu sudah belajar pada siapa saja?" Dia menjawab bahwa dia belajar dari sangat banyak orang yang dia anggap sukses atau guru. Saya hanya tersenyum dalam hati, saya sudah tahu pasti bahwa dia akan sulit mencapai sukses karena dia sibuk mencari jarumnya di perkarangan, padahal hilangnya di dalam rumah. Sampai 3 tahun kemudian, dia tetap saja berjalan dalam lingkaran yang berputar-putar yang tidak mungkin bergerak maju karena akan kembali ke titik semula, bukan? Namun, karena teman saya ini selalu mencari pembenaran, tentu sangatlah sulit bagi dia untuk keluar dari lingkaran itu. Dia terjebak dalam "balon bening" ciptaanya sendiri dan karena bening dia tidak melihatnya dan dia tidak tahu dia terjebak.


Pernahkah Anda bertanya dalam hati: "Bagaimana saya bisa fokus kalau saya memiliki banyak Kiblat?" Bukankah yang namanya Kiblat haruslah SATU. Cara atau Metode ke arah KIBLAT boleh saja berbeda-beda. Namun KIBLAT tetaplah SATU.


Mungkinkah kita menyarikan rumus sukses dari berbagai Guru kelas dunia menjadi satu rumus sukses? Padahal Guru kelas dunia itupun hanya punya satu Guru? Apakah kita lebih hebat dari Guru kelas dunia tersebut dengan menyarikan ajaran mereka menjadi satu rumus saja? Hati-hati, mungkin kita akan terjebak di hutan yang lebih lebat lagi...


Untuk menjadi berhasil sesungguhnya sangat sederhana, kita hanya perlu punya satu Guru, satu Kiblat saja. Guru itu adalah di dalam diri kita. Ya, dalam di dalam rumah kita, bukan di perkarangan walaupun terang, namun di dalam hati yang mungkin saja gelap. Gelap karena jarang kita kunjungi dan tidak pernah kita nyalakan pelita, bukan?


Jawaban dari pertanyaan "Mengapa, mengapa & mengapa?" ada di dalam diri kita sendiri. Ya, hanya kitalah yang bisa membukanya. Bukan orang lain. Karena kita adalah si pemilik kunci tersebut. Kita hanya perlu mengambil kunci itu. Nama kunci itu berupa pertanyaan: "Siapa diriku ini?" - "Who Am I?"


Yok, kita main-main lagi seperti kejeblos dalam gelap tadi. Kita mulai seperti pengalaman di atas tadi: "Bayaaangkaaan dan rasaaakaaan... Sekarang tiba-tiba Anda terperosok dan berada dalam ruangan yang gelaaap..." Lalu coba pengalaman berikut:


1. Tenangkan diri Anda, bernafaslah yang perlahan.

2. Masuk ke suasana Diam sampai terasa Hening.

3. Pejamkan mata dan terus berdiam.

4. Teruslah berdiam diri sampai terasa nyaman.


Maka akan muncullah ...... (silahkan jawab sendiri, Anda tahu kok jawabannya he..he..) Sangat indah, bukan?


Setelah itu, tanyakan dalam diri Anda; "Siapakah aku ini?"

Pertanyaan kedua: "Apa misi hidupku di dunia ini?"

Apa jawaban yang benar? Mana saya tahu karena itu misteri hidup Anda sendiri he..he.. Nanya melulu ah!


4 langkah di atas bukanlah cara yang baku, itu hanya cara si Krishna saja, jadi bisa pas untuk Anda bisa juga tidak. Untuk masuk ke dalam diri, gunakan saja cara yang telah Anda ketahui atau Anda yakini, misal untuk Anda yang Muslim gunakan saja Dzikir. Anda yang Hindhu atau Budha, gunakan Meditasi. Anda yang Katholik, gunakan doa reflektif Rosario (bukan doa memohon) dan bagi Anda yang Kristen Protestan gunakan saja Doa Syafa'at atau Doa Reflektif lainnya. Yang penting diri Anda harus dalam kondisi hening sebelum mulai.


Jika kunci sukses sudah Anda temukan dalam diri Anda, maka tidak ada satu orangpun yang bisa menghalangi jalan Anda untuk mencapai sukses. Andapun tidak mungkin tersesat lagi, karena Anda sudah tahu tempat yang indah itu, bukan? Adanya di dalam diri. Kapanpun Anda perlu ke tempat indah itu, Anda hanya perlu berdiam diri. Itulah yang disebut Kekuatan Motivasi dari Dalam Diri. Inside-Out Motivation. Sang maha indah, sang Unconscious, sang Qalbu, sang Hati Nurani yang berbudi Pekerti.


Teruslah luangkan waktu untuk berhening diri. Masuk dan ber-dialog-lah ke dalam diri sampai terdengar dengan mesra jawaban "Siapakah aku ini?" dan "Apa misi hidupku di dunia ini?". Semuanya tersimpan dengan rapi didalam diri. Sebuah Buku Kehidupan. Buku Kehidupan Anda sendiri. Tidak dijual dimanapun. Jauh-jauh lebih hebat dari buku Rich Dad Poor Dad ataupun buku The Secret. Karena tidak ada yang "Secret". Anda tinggal mengambil dan membukanya sendiri Buku Kehidupan Anda tersebut. Temukan jawabannya di halaman terakhir. Yang diperlukan hanya kejujuran hati saja. Ah, sungguh suatu pengalaman batin yang susah dilukiskan dengan kata-kata yang sangat terbatas ini. Anda harus mengalaminya sendiri...


Pikiran manusia memang luar biasa, dahsyat, sungguh tanpa batas. Apalagi ditambah bumbu Perasaan, makin hebatlah si pikiran manusia. Namun, salah bumbu salah rasa, walau sangat gurih namun sering kali kita terjebak rasa. Rasa sombong sebagai manusia. Hatilah yang bisa menetralkan rasa. Hati laksana air gunung yang sangat sejuk dan tanpa rasa. Tanpa hati, kita bisa kebablasan dalam angkuhnya pembenaran.


Menyelaraskan Pikiran, Perasaan dan Hati adalah PUZZLE kita sebagai manusia. Ada yang bisa menemukan dan menyusun potongan-potongannya menjadi sebuah gambar kehidupan yang indah, lalu melompat gembira. Namun, banyak sekali orang yang tidak pernah menemukan potongan-potongan PUZZLE-nya sampai dia masuk di liang lahat. Sungguh kasihan, karena selama ini sibuk mencari jarum di perkarangan walau hilangnya di dalam rumah. Maaf, maaf dan maaf ya...


Sungguh Allah maha bijaksana, bukan? Menyimpan Permata terindah justru di dalam hati kita, bukan di dalam lautan.

Krishnamurti
01 September 2007

Tuesday, December 11, 2007

LUCK FACTOR


Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman mencari sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1.Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2.Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam. sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam
berbagai bentuk, misalnya:
- Isyarat dari badan. seperti “Gue kok tiba2 deg-degan ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami.

3.Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4.Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umumnya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus.
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.

Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Buku yang dikarang oleh Professor Richard ini telah diterbitkan di 25 negara

SUBLIMINAL MESSAGING

Temans..sedikit ide tentang cara menyampaikan pesan untuk bawah sadar
(subliminal messaging) kita. Saya "tersandung" di website ini
(www.articlesbase.com/self-improvement-articles/boost-your-life-with-sublimi
nal-messages-for-free-203322.html)
dan segera ingin mempostingnya di milis MM. Mohon maaf sebelumnya,
karena saya hanya bisa terjemahkan bagian pentingnya saja (..itupun
masih belajar..xi..xi..xi...). Semoga bermanfaat. Apabila sudah
dipraktekan tolong sharing hasilnya di sini ya..

.........beginilah caranya. Mulailah dengan mengenali beberapa goal
(tujuan) inti yang ingin Anda fokuskan dalam hidup. Contohnya, Anda
mungkin ingin belajar lebih cepat atau ingin berhenti merokok.
Kemudian, tulislah goal tersebut secara singkat, sederhana dan dalam
bentuk positif.

Misalnya, "Saya belajar dengan cepat" atau "Saya siap berhenti
merokok", "Saya investor yang bijaksana", "Kecepatan baca saya
meningkat setiap hari" atau "Sekarang saya lebih PEDE!"
Hati-hati! Jangan menggunakan kata negative, seperti "Tidak" atau
"Tidak bisa" dalam kalimat goal Anda. Bawah sadar tidak memahami kata
negative, yang jika tetap digunakan hanya akan dipahami secara
berlawanan, contohnya "Berat badan saya TIDAK bertambah" dipahami
menjadi "Berat badan saya BERTAMBAH". Resiko ditanggung sendiri!

Sekarang tulislah afirmasi Anda dengan jelas memakai spidol dalam
tulisan yang besar dan tebal, pada selembar kertas karton putih.
Buatlah sekitar 3 lembar atau lebih, masing – masing berisi afirmasi
dengan tema inti lalu simpanlah di dekat tempat tidur Anda disertai
lampu senter.

Langkah selanjutnya agak sedikit ribet.

Kita akan menangkap pikiran dalam keadaan daya serap yang tinggi,
caranya dengan bangun di tengah malam, saat dimana pintu bawah sadar
tengah terbuka lebar.

Aturlah alarm jam Anda pada pukul 3 dinihari, lalu tidurlah seperti
biasanya. Pada saat Anda mendengar "raungan" alarm, segera matikan!
Dan –secara otomatis– ambillah karton berisi afirmasi Anda beserta
senter. Kamar tidur Anda harus benar-benar gelap gulita.

Kemudian sorot karton tersebut dengan senter, ceklikan senternya
secara on dan off, mati – nyala – mati – nyala…, lakukan
secepat
mungkin sekitar 12 kali atau lebih, tataplah karton tersebut. Jangan
menilai kalimat – kalimat afirmasinya secara sadar. Afirmasi tersebut
ditujukan untuk bawah saar Anda.

Kalau sudah, matikan senternya, simpan karton afirmasi Anda dan
tidurlah kembali. Proses ini hanya memakan kurang lebih 2 menit saja
dan saya jamin Anda akan langsung tidur nyenyak kembali.

Cukup itu saja! Lakukan proses ini dan Anda telah "mengirimkan"
sejumlah pesan langsung ke bawah sadar Anda. Silahkan rasakan hasilnya
yang luar biasa!

Setelah beberapa malam pertama menggunakan teknik ini, mayoritas orang
melaporkan memperoleh mimpi/bayangan/pikiran berisi problem-solving
yang membantu goal mereka atau mempengaruhi keputusan mereka. Hanya
beberapa minggu kemudian hampir semua orang melihat pergerakan serius
ke arah goal inti mereka. Seperti misalnya, kecepatan belajar
meningkat dan kecanduan rokok berkurang 50%.

Karena perubahan yang ditimbulkan berasal dari "dalam", hasilnya tidak
akan selalu nyata. Tetapi beberapa minggu kemudian, mayoritas orang
sadar betapa mereka telah jauh berkembang tanpa disadarinya. Sesudah
itu…semua goal Anda tercapai sudah...pesan afirmasi Anda bekerja!

Jika sudah siap, Anda bisa melaju ke goal lainnya hanya dengan
menuliskan serangkaian karton afirmasi lagi.

System ini sangatlah sederhana dan begitu powerful namun juga amat
diremehkan!

Mayoritas orang yang membaca artikel ini tidak mencoba teknik ini.
Kemungkinan mereka tidak yakin tekniknya manjur atau mungkin juga
menganggapnya terlalu merepotkan.

Memang kurang praktis bila dibandingkan dengan software afirmasi
modern di komputer Anda. Tetapi benarkah teknik ini tidak bekerja?
Jika masih pesimis, cobalah selama seminggu dan lihat sendiri hasilnya.

Anthony Robbins, Tiger Woods, Derren Brown, New Scientist magazine,
bahkan pemerintah U.S.A mengetahui kekuatan yang ada dibalik teknik
jennis ini yang dikenal dengan subliminal messaging technique. Dan
jika Anda masih enggan mempraktikannya, mungkin hanya tinggal masalah
waktu saja.

Wednesday, October 3, 2007

Keinginan

Renungkan keinginanmu dengan... TENANG
Ciptakan keinginanmu dengan.... YAKIN
Lepaskan keinginanmu dengan.... IKHLAS
Jemput keinginanmu dengan...... SABAR
Terima keinginanmu dengan...... SYUKUR

"apa apa yang kau lepaskan dengan ikhlas, maka akan kembali padamu.
yakinlah"...


Salam,
Muhammad Isman

Friday, September 28, 2007

MEMAHAMI KEDAHSYATAN "LOA"...MEJA MAKAN...

Dear ALL LOA-ers,


Tentunya Anda semua tahu "meja makan", bukan? Bukan meja yang sedang makan lho ya...hehehe... Ya, kata kuncinya adalah MEJA MAKAN...

Sekarang saya ingin mengingatkan Anda semua. Berapa kali kah Anda makan di meja makan rumah Anda? Dalam sehari! Bersama seluruh anggota keluarga Anda?

Saya merasa, sebagian dari Anda pasti menjawab dengan tersipu malu...wah, iya ya jarang sekali...wah, gak sempat nih, sibuk banget aku...wah, gak ada waktu...boro-boro...dlsb.

Nah, jika Anda termasuk yang menjawab seperti tadi...alias jarang atau bahkan tidak pernah makan bersama seluruh anggota keluarga Anda (istri/suami, anak-anak)...di meja makan rumah Anda; maka sesungguhnya Anda telah menyia-nyiakan KEKUATAN VIBRASI, yang akan mengantarkannya kepada LAW OF ATTRACTION (LOA).

Ya, Anda telah melupakan, betapa dahsyatnya VIBRASI yang telah terbentuk lewat jalan makan bersama dengan seluruh anggota keluarga Anda di meja makan rumah Anda.

Cobalah Anda pikirkan dan bayangkan sejenak. Jika Anda bersama seluruh anggota keluarga Anda sedang makan bersama di meja makan rumah Anda. Apakah yang paling sering diperbincangkan di meja makan, saat menikmati kebersamaan? Pastilah percakapan yang menyenangkan, bukan? Pasti hal-hal yang bersifat positif, dinamis, bergairah, optimis...dan hal lain yang menyenangkan diantara keluarga Anda.

Anak-anak Anda bisa bebas menceritakan kegiatan-kegiatannya, bicara tentang keinginan-keinginannya. Demikian halnya dengan istri/suami Anda, pastilah juga membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Jika ada hal yang tidak menyenangkan (kadang terjadi), alihkan pembicaraan ke hal-hal yang positif saja...pokoknya buatlah suasana di depan meja makan tersebut, sesuatu yang indah dan baik-baik saja.

Nah, dengan membiasakan diri selalu bersama-sama menikmati hidangan di meja makan dengan seluruh anggota keluarga Anda, maka jalinan hubungan batin dan spiritual diantara seluruh keluarga Anda (termasuk Anda) akan semakin kuat dan erat.

Kalau hubungan batin dan spiritual yang kuat dan erat ini sudah Anda peroleh (Anda bisa merasakannya)...maka apapun yang Anda inginkan, pasti demi kebaikan seluruh anggota keluarga Anda (bukan hanya kebaikan Anda sendiri...iya toh). Dan, keinginan Anda apa pun itu, pasti akan memancarkan VIBRASI Pikiran Anda yang selaras dan "tune-in" dengan VIBRASI Pikiran seluruh anggota keluarga Anda.

Oleh karena itu, Anda bisa bayangkan! Betapa dahsyat luar biasa prima...PANCARAN VIBRASI yang Anda kirimkan ke alam semesta ini. VIBRASI yang seperti ini, saya yakin tentulah akan menyentuh Kekuatan ILAHI. Dan, tentu saja hasilnya bisa di duga sebelumnya...Anda pastilah mendapatkan apa pun yang telah Anda vibrasi kan itu, apa pun yang Anda inginkan untuk kebaikan keluarga Anda tersebut...PASTI TERJADI...dengan...CEPAT SEKALI... Bahkan manifestasinya sungguh di luar dugaan Anda sebelumnya.

COBALAH ANDA TERAPKAN!

Karena saya dan keluarga saya sudah membuktikan, betapa dahsyatnya LOA Meja Makan ini. Sungguh...rasakanlah...betapa dahsyatnya LOA di Meja Makan Rumah Anda...jika Anda menyadarinya... Jangan sia-siakan meja makan di rumah Anda sebagai "hiasan rumah" belaka. Manfaatkanlah keberadaan meja makan di rumah Anda sesuai dengan proporsinya.

SELAMAT MENCOBA KEDAHSYATAN "LOA" MEJA MAKAN...


Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano